Tampilkan postingan dengan label kisah dan opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah dan opini. Tampilkan semua postingan

13 Januari 2011

Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Itu Adalah Ibunda Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.
Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.
Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.
Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”
Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”
Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”
Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka.

Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum?.”
Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.
Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.


Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya?Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.
Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

Artikel: abuthalhah.wordpress.com dipublikasi ulang oleh moslemsunnah.wordpress.com

copas dari http://moslemsunnah.wordpress.com/2010/12/22/wanita-bisu-tuli-buta-dan-lumpuh-itu-adalah-ibunda-al-imam-abu-hanifah-an-nu%E2%80%99man-bin-tsabit/

08 Agustus 2010

Belajar membaca Al Qur'an sejak dini



Alhamdulillah, Nasyitha kecil - belum genap 4 tahun - senang belajar a ba ta.
Awalnya di toko buku, bunda Nasyitha melihat buku kecil berukuran sekitar separuh kertas A4 berwarna biru muda berisi tulisan huruf hijaiyah berbaris fathah a ba ta...dst...sampai ya'. Lalu bunda pun membelinya untuk menambah koleksi buku Nasyitha.

Nasyitha menjelang tidur, sambil minum susu pake dot, biasanya ditemani bunda yang membacakan do'a, surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas, Ayat Kursi, 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh (alhamdulillah karena rutin dibacakan, lama-lama Nasyitha hapal sendiri). Setelah selesai meniupkan do'a dan mengusap tubuhnya 3 kali, acara selanjutnya adalah membacakan buku sampai tertidur. Kali ini bunda bacakan buku a ba ta yang baru dibeli, sampai selesai. Hal ini kami lakukan berulang-ulang beberapa malam berselang seling (maklum anak-anak suka bosan dan ingin memilih bukunya sendiri), kadang-kadang bunda merekam dengan HP untuk diliat-liat Nasyitha besok siangnya.

Dan suatu malam, Nasyitha duduk di depan meja kecilnya membuka buku a ba ta, dan membaca sendiri... wah bukan main bangganya bunda, langsung bunda rekam dengan hp. Melihat respon baiknya, bunda pun membelikan buku Iqro 1-6. Nasyitha tidak keberatan mengulang pelajaran dari iqro 1 yang sudah hampir dikuasainya. Dan berlomba sama sepupunya yang kelas 1 SD, siapa yang duluan naik tingkat ke iqro 2..?
Semoga Nasyitha tetap semangat melanjutkan ke jilid berikutnya hingga akhirnya lancar membaca Al Qur'an.

Subhanallah memori anak kecil memang luar biasa. Mungkin sebenarnya para bunda bisa mengajari anaknya lebih awal lagi daripada usia Nasyitha ketika mulai diajari. Karena bunda Nasyitha pernah liat di youtube, anak umur 1,5 th dah bisa a ba ta dst, karena sejak umur 6 bln sudah diajari ibunya dengan flashcards. Subhanallah...Keren....

Rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrota a'yuun, waj'alna lil muttaqiina imaama, aamiin...

22 Maret 2010

Memaknai Pertolongan Allah


Bismillah...

Alhamdulillah, ashsholaatu wassalaamu 'ala Rasulillah wa'ala aalihi washohbihi ajma'in

Masih terngiang ucapan Ustadz Aam Amiruddin dalam suatu kajian di Bandung yang pernah ku ikuti sekitar sepuluh tahun yang lalu...
"Terkadang pertolongan Allah itu datang dengan awal yang tidak nyaman, tidak mengenakkan..."
Yah, sehingga kita sering salah paham dan bersu'udzhon, bahkan menganggap Allah tak adil, astaghfirullah...

Ustadz bercerita, suatu ketika beliau naik bis, dan mendapat tempat duduk yang nyaman, di bagian tengah bis, samping jendela. Tiba-tiba datang sepasang orang yang mengusir beliau karena mereka ingin duduk bersama di tempat itu. Akhirnya dengan hati dongkol beliau mengalah dan mengambil tempat duduk yang tersisa di bagian belakang bis. Selama perjalanan beliau menyaksikan pasangan tadi menikmati pemandangan dari jendela bis dengan nyaman, sementara beliau merasa sangat tidak nyaman, tempat duduknya yang tepat di atas ban, membuat badan sakit karena ikut "melompat-lompat". Qodarullah, terjadi kecelakaan, singkat cerita, beliau selamat, sementara pasangan yang menempati kursi beliau tadi ... tewas, badannya tertusuk besi dari samping, satunya kalo tidak salah luka parah. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un, seketika beliau tersadar betapa Allah telah menolong beliau dari hal yang tidak diinginkan.

Begitulah, satu contoh.

Contoh kedua... seorang wanita sebut saja Fulanah A, batal menikah, padahal sudah sampai tahap persiapan pelaksanaan aqad. Bayangkan betapa kecewanya, betapa malunya keluarga sementara undangan telah disebar, dan si calon mempelai laki-laki (Fulan) ini membatalkannya karena akan menikah dengan WIL, wanita idaman lain.
Waktu pun berlalu...dalam sebuah perjalanan, Fulanah A duduk berdampingan dengan seorang wanita - sebut saja Fulanah B - di dalam pesawat, terjalinlah obrolan, dengan izin Allah, Fulanah B bercerita kepada Fulanah A, bahwa suaminya adalah seorang laki-laki yang kasar, suka memukul istri, Fulanah B menderita. Usut punya usut, ternyata suami Fulanah B adalah si Fulan !!
U see..? apakah Fulanah A menyadari ketika di awal peristiwa batalnya pernikahan mereka, bahwa itu sejatinya pertolongan Allah ?

Laa haula walaa quwwata illa billaah...
Coba kita tengok perjalanan hidup kita dan orang-orang di sekitar kita, mungkin pernah kita alami hal serupa. Awal yang tak enak, berakhir dengan kemudahan, kebahagiaan, karena ternyata itu adalah pertolongan Allah.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
QS. al-Baqarah (2) : 152-153


Serahkan urusan kita pada Allah, tawakkal, nantikan pertolongan Allah dengan kesabaran. Yakin bahwa suatu saat rahasia Allah itu akan terungkap, hikmah itu akan datang menghampiri.


“Kepada Allahlah kalian bertawakkal (menyerahkan diri) jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (Al-Maidah: 23)



***

Akhir-akhir ini ramai pembicaraan tentang polemik hukum rokok. Sebagian orang yang kontra, berpendapat bahwa untuk mengeluarkan fatwa haram, harus lihat-lihat dampak, misalnya dampak sosial. Mungkin dalam hal ini yang dimaksud adalah kerugian perusahaan rokok yang mengakibatkan PHK sebagian karyawannya.
Mari kita renungi (daripada berdemo), untuk coba memaknai peristiwa ini...
Bisa jadi ini pertolongan Allah buat para karyawan yang di PHK. Allah mungkin tak ingin mereka terus menerus membiayai hidup mereka, menafkahi keluarga mereka, dengan uang dari usaha / tolong menolong dalam membuat dan menyebarkan rokok. Allah mungkin ingin mereka mengubah hidup mereka , untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. Wallahu a'lam. Jika mereka mau memaknai PHK ini sebagai pertolongan Allah, maka langkah yang diambil selanjutnya adalah memikirkan alternatif pekerjaan atau sumber penghasilan lain yang halal dan thoyyib. There's a will, there's a way, insya Allah.

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu merubahnya (Ar Ra'd 11).

Life goes on... jangan berhenti melangkah karena tersandung, namun kita diperintahkan untuk terus bangkit, berusaha dan bertawakkal. Yakin dengan janji Allah yang pasti.


Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
QS. al-Insyirah (94) : 5-8


Tak perlulah repot2 demo, menghujat pihak yang mengeluarkan fatwa, mencela pemerintah yang tidak memfasilitasi penyediaan lapangan kerja pengganti, terbuang energi jika berharap pada makhluk.

Boleh jadi kita tak suka dengan sesuatu, tapi ternyata itu baik bagi kita. Boleh jadi kita cinta sesuatu, padahal memudharatkan kita.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

“Ya Allah, Perbaikilah kondisiku semuanya, janganlah Engkau serahkan aku pada diriku sendiri walau sekejap mata, dan jangan pula engkau serahkan aku pada seorang pun dari makhluk-Mu.”

20 April 2009

Sumbangan untuk Pembangunan Masjid / Mushalla


Satu fenomena menarik yang biasa dijumpai di beberapa titik lokasi di sepanjang jalur regional yang terbentang dari selatan ke utara Provinsi Kalsel, dari Kota Banjarmasin s.d. Kab. Tabalong adalah hadirnya deretan peminta sumbangan di jalanan untuk pembangunan masjid / mushalla. Pelakunya beragam, bisa kakek2, bapak2, ibu2, remaja putra/putri, bahkan anak2 !! (ehm..kalo ketauan Kak Seto dari Komnas Perlindungan Anak bisa ditegur nih panitia pembangunan..). Bila cuaca cerah, mereka berdiri di tepi jalan, atau di median jalan, sepanjang sekitar 5-10 m, dengan menadahkan topi, jala ikan, dan atau kardus. Satu orang (bisa laki2, atau perempuan) berteduh di pos tepi jalan bertindak sebagai juru bicara, pegang mikrophon sambil cuap2, kadang terdengar memelas, menghimbau para pengguna jalan agar rela melemparkan uang sumbangan mereka ala kadarnya, kemudian sesekali meneriakkan sholawat atas Rasulullah SAW serta melantunkan do’a keselamatan bagi si penyumbang. Orang-orang ini begitu bersemangat menangkap lembar2 uang ribuan yang dihembus angin, mengejar receh demi receh yg menggelinding di aspal panas...benarkah HANYA demi tegaknya bangunan ibadah di kampung mereka?

Yah, itulah cara praktis dan cepat bagi mereka untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan masjid/langgar/mushalla di lingkungannya. Jalan regional yang sempit menjadi semakin sempit. Tak peduli, meskipun keberadaan ”barisan” ini mengakibatkan sedikit kemacetan lalu lintas, karena jika tidak ingin membahayakan siapapun, maka kendaraan harus jalan pelan-pelan. Juga tak peduli kesan yang mereka bangun atas umat Islam ini : UMAT MISKIN.

Mei 2007, saya diminta tolong oleh abang ipar untuk membuat desain mushalla berukuran 10x10 di gang tempat tinggalnya, lengkap dengan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Alhamdulillah ketika berkunjung ke rumah kakak, saya turut senang melihat perkembangan mushalla itu. Warga mulai menumpuk bahan, di waktu berikutnya, mulai membangun pondasi. Bulan yang lalu ketika saya berkunjung, bangunan mushalla sudah berdiri, namun belum finishing.
Ada hal yang mengejutkan : Di depan gang, berdiri barisan peminta sumbangan tempat ibadah, yang bulan-bulan sebelumnya tidak saya jumpai di sana.
Ketika saya tanyakan kepada ipar, ternyata memang memintakan sumbangan dana untuk mushalla yang saya desain dulu. Astaghfirullah, kenapa jadi latah gini? Katanya sih warga sepakat mengambil jalan ”meminta-minta” biar cepet kelar. Sumbangan dari pemda tidak mencukupi. Dan yang lebih menyedihkan lagi kakak cerita bahwa mereka yang bersedia berdiri di jalanan itu meminta imbalan 20 % dari dana yg terkumpul per harinya. Anggaplah rata-rata per hari diperoleh Rp 600.000, berarti 20 % nya Rp 120.000, dibagi sekitar 10 orang.
”Kasihan, mereka orang2 susah, contohnya ada janda beranak lima yang berpartisipasi, lumayan kan dapet sekitar Rp 12.000 sehari...” Begitu kata kakak.

Ya Allah..ternyata mereka bukanlah relawan. Tapi mereka adalah ”pencari nafkah”. Meminta sumbangan untuk mushalla/masjid di jalanan adalah lapangan kerja bagi mereka. Perjuangan mereka di bawah terik matahari ternyata tak sekedar wujud kerinduan akan tegaknya bangunan ibadah di kampung mereka. Tidak heran, setelah tempat ibadah berdiri, jama’ahnya tetap bisa dihitung dengan jari.

Sedih..sedih, hati ini teriris-iris, setiap kali melewati ”para pejuang” ini, yang terbersit kini adalah satu hal : KEMISKINAN. Kemiskinan telah membuat mereka mencari nafkah dengan jalan meminta-minta seperti ini. Mengatasnamakan tempat ibadah orang Islam. Bagaimana dengan izzah/kehormatan kita sebagai muslim?
Harusnya kita mampu berpikir lebih kreatif untuk menggalang dana, yang sekaligus menyediakan peluang lapangan kerja bagi warga.

Satu contoh menarik, sebuah panti asuhan di kota saya menawarkan pemesanan nasi bungkus dengan aneka pilihan lauk, keuntungannya untuk tambahan dana operasional panti tersebut. Panti ini menawarkan ke perkantoran. Beberapa orang kurang berminat memesan nasinya, tapi hanya ingin menyumbang, ikut menyerahkan uang saja. Ternyata, esok harinya nasi bungkus tetap datang sejumlah uang yang terkumpul. Mereka menjual sesuatu, bukan meminta-minta. Contoh lain ada yang mencari dana dengan berjualan kue atau stiker. Subhanallah, sederhana tapi kreatif.

Abdullah bin Umar radhiyallaahu anhu berkata: Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Selalu seorang itu meminta-minta kepada orang sehingga tiba di hari kiamat sedang di wajahnya tidak ada sisa sepotong daging pun. Yakni hanya tinggal tulang belulang belaka. (HR. Bukhari, Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia telah meminta bara api, silahkan ia mau menyedikitkannya atau memperbanyaknya’. (HR.Muslim)

Banyak hadits-hadits yang mencela meminta kepada manusia dan menganjurkan untuk bersikap memelihara diri dari meminta-minta.

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersabda : "Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta itu tidak dibolehkan kecuali dalam salah satu dari tiga hal, yaitu :

1. Seseorang (yang mendamaikan pertikaian antara manusia lalu) dia menanggung beban biayanya maka boleh baginya meminta hingga dia mendapatkannya kemudian dia berhenti dari meminta.

2. Seseorang yang tertimpa bencana hingga musnah hartanya maka boleh baginya untuk meminta hingga dia mendapatkan hal yang bisa menopang hidupnya.

3. Seseorang yang tertimpa kemiskinan yang sangat hingga 3 orang yang cerdik dari kaumnya berkata: telah menimpa orang itu kemiskinan yang sangat maka boleh bagi orang ini untuk meminta sampai dia mendapatkan hal yang bisa menopang hidupnya.

Selain ketiga hal ini -wahai Qobishoh- meminta-minta itu termasuk memakan harta yang haram" (HR Muslim)

Hadits di atas ini menunjukkan akan haramnya meminta-minta dan hal tersebut tidak dibolehkan kecuali karena terpaksa seperti yang disebutkan dalam hadits atau yang semisalnya.

Saya yakin, orang-orang yang rela berpanas2 di bawah terik matahari untuk menantikan sumbangan dari pelalu-lintas demi pembangunan mesjid/mushalla itu, adalah orang2 yang sebenarnya kuat fisiknya untuk melakukan pekerjaan halal lainnya, jika mereka bersedia dan berusaha, Insya ALLAH.

Semoga kita semua mau berpikir lebih kreatif, karena manusia dikaruniai akal untuk berpikir.
Agar tidak malu umat ini. Agar bisa dengan lantang kita berseru ”Saksikanlah, bahwa aku seorang MUSLIM !! ”.
Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kecukupan.
Wallahu a’lam.

Ummu-Nasyitha
Barabai, 16 April 2009/20 Rabiuts Tsani 1430 H.