Tampilkan postingan dengan label dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dzikir. Tampilkan semua postingan

11 April 2012

Dzikir kala hujan

Pada saat-saat ini, Allah -subhanahu wa ta’ala- banyak menurunkan hujan di daerah kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita bersama mengingat beberapa dzikir dan doa yang berkaitan dengan hujan. Di antaranya yaitu:


1. Berdoa ketika melihat hujan
Apabila kita melihat hujan sedang turun, maka disyariatkan untuk membaca doa:

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Ya Allah, (jadikanlah) hujan ini adalah hujan yang bermanfaat.
Dalilnya adalah

عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهَا – قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ  – صلى الله عليه وسلم -  إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِيْ أُفُقٍ مِنْ آفَاقِ السََّمَاءِ، تَرَكَ عَمَلَهُ – وَإِنْ كَانَ فِيْ صَلاَتِهِ – ثُمَ أَقْبَلَ عَلَيْهِ، فَإِنْ كَشَفَهُ اللهُ حَمِدَ اللهُ، وَإِنْ مَطَرَتْ قَالَ : اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Dari Aisyah -radhiallahu anha- ia berkata, “Dahulu Rasulullah  -shallallahu alaihi wa sallam- apabila melihat mendung di ufuk langit, maka beliau meninggalkan aktivitasnya, meskipun dalam keadaan shalat, kemudian menghadap kepadanya. Apabila Allah menyingkapnya, maka beliau memuji-Nya dan apabila turun hujan, beliau berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah hujan ini adalah hujan yang bermanfaat’.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 530/686, Ibnu Majah, no. 3889. Lafal ini dalam al-Adab al-Mufrad. Syaikh al-Albani dalam Shahih Adab Mufrad berkata: Shahih). Lihat pula Misykat al-Mashabih, no. 1520, ash-Shahihah, no.2757)

2. Berdoa apabila air hujan turun dengan sangat banyak
Apabila air hujan yang turun terlihat banyak dan dikhawatirkan akan merusak apa yang dikenainya, maka disunnahkan untuk membaca doa :

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, jadikanlah hujan ini untuk sekeliling kami dan tidak membahayakan kami. Ya Allah, jadikanlah air hujan ini merata menuju perbukitan, lembah-lembah dan tempat-tempat tumbuhnya pepohonan. (HR. al-Bukhari, 933, dan Muslim, no. 897)

3. Berdoa setelah turun hujan
Apabila kita mendapatkan bahwa hujan telah reda, maka disunnahkan untuk membaca doa :

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

Kita diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya.
Hal itu berdasarkan hadits Zaid bin Khalid al-Juhani:

فَأَمَّا مَنْ قَالَ : مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ

Adapun barangsiapa yang mengatakan, “Kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya”, maka dia adalah orang yang mukmin kepadaku dan kafir terhadap bintang. (HR. al-Bukhari, no. 846, 1038, 4147, 7503 dan Muslim, no. 71)

4. Ketika Terdengar Petir.
Ketika kita mendengar petir, maka disunnahkan berdoa dengan doa berikut :

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ

Maha Suci Dzat yang mana petir itu bertasbih dengan memuji-Nya dan para malaikat karena takut kepada-Nya.
Dalilnya adalah sebuah atsar mauquf dari Abdullah bin az-Zubair:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ كاَنَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيْثَ، وَقَالَ : ((سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ))، ثُمَ يَقُوْلُ : إِنَّ هَذَا لَوَعِيْدٌ شَدِيْدٌ لأَهْلِ اْلأَرْضِ

Dari Abdullah bin Zubair, bahwasanya dahulu apabila beliau mendengar petir, beliau menghentikan pembicaraan dan mengatakan, “Maha Suci Dzat yang mana petir itu bertasbih dengan memuji-Nya dan para malaikat karena takut kepada-Nya”. Kemudian mengatakan, “Ini adalah ancaman yang dahsyat untuk penduduk bumi”. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no 723 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adab al-Mufrad, no. 556)
Demikianlah diantara cara kita agar termasuk orang-orang yang selalu membasahi lisan kita dengan dzikrullah sebagaimana diisyaratkan oleh al-Hafidz Ibn Rajab -rahimahullah-. (Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, jilid 2, hlm. 529, tahqiq Syu’aib al-Arna`uth)
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat ketenangan hati dengan berdzikir.
Oleh : Abu Ashim Muhtar Arifin Lc

Sumber : Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 56 hal. 37-38

http://almalanji.wordpress.com/2010/01/18/perbanyak-berdzikir-ketika-hujan-dan-mendengar-petir/#more-288

30 November 2010

Bila Dipuji Orang…



Tatkala Abu Bakar As-Shiddiq dipuji dihadapan manusia lalu ia berkhutbah setelah itu, telah shahih darinya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya ia berkata, “Ya Allah jadikanlah aku” –ia mengucapkannya dengan keras- ia berkata,


 اللهم اجعلني خيرا مما يظنون، واغفر لي ما لا يعلمون

“Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangkakan dan ampunilah aku dari apa-apa yang mereka tidak ketahui”


Hukum memuji pada dasarnya adalah tidak boleh disebabkan dua hal berikut:
1.        Bisa jadi ia memuji sesuatu yang tidak mungkin ia ketahui (seperti berkata bahwa ia adalah orang yang bertakwa, orang yang ikhlas, orang yang waro’, zuhud…, karena ini menyangkut hati dan tidak ada yang mengetahui isi hati kecuali Allah) oleh karena itu hendaknya orang yang memuji berkata “Aku menyangka demikian”. Berbeda jika ia mengatakan “Aku melihatnya sholat atau berhaji, berzakat” karena hal ini bisa diketahui olehnya namun…
2.        Tinggal kecelakaan bagi orang yang dipuji karena ia tidak aman jika dipuji akan timbul perasaan sombong atau ujub atau iapun jadi lalai karena bertawakal dengan pujian sipemuji tersebut akhirnya iapun malas untuk beramal, karena orang yang terus beramal biasanya adalah orang yang menganggap dirinya kurang.

Namun jika yang dipuji selamat dari hal ini maka tidaklah mengapa, bahkan bisa jadi hukumnya adalah mustahab sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam  telah memuji Abu Bakar dengan perkataannya, “Sesungguhnya engkau bukan termasuk orang yang isbal karena sombong”, demikian juga perkataan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam  kepada Umar, ما لقيك الشيطان سالكا فجا الا سلك فجا غير فجك “Tidaklah Syaitan bertemu denganmu tatkala engkau melewati jalan kecuali syaitan akan mencari jalan yang lain”.

Demikian juga pujian Nabi  Shallallahu 'alaihi wasallam kepada lelaki Anshor yang menjamu tamu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam “Allah ta’jub dengan perbuatan kalian berdua”, dan yang lainnya.

Ibnu Uyainah berkata, من عرف نفسه لم يضره المدح “Barangsiapa yang mengenal dirinya maka pujian tidak akan mencelakakannya” (Disadur dari penjelasan Ibnu Hajar dalam Al-Fath 10/478-479).
Namun siapakah yang merasa aman dari ujub jika dipuji sebagaimana Abu Bakar dan Umar???!!!

Diterjemahkan dan diberi catatan kaki oleh Firanda Andirja dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh
Artikel www.firanda.com

http://abangdani.wordpress.com/2010/07/13/wasiat-ibnu-masud-1-kalau-kalian-mengetahui-dosa-dosaku-maka-tidak-akan-ada-dua-orang-yang-berjalan-di-belakangku/