Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

03 Maret 2011

Melihat Ketekunan Belajar Para Ulama Salaf



Para Ulama salaf mencari ilmu syar’I dengan semangat dan bersungguh-sungguh, tekun belajar dan memberikan seluruh waktunya untuk menulis, menghafal, dan mengarang. Hingga akhirnya, ilmu syar’I menjadi kenikmatan dan surga pun mereka rasakan.
Ibnu Uqail menceritakan ketekunannya dalam membaca dan meraih ilmu. Beliau berkata, “Sesungguhnya tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sedikit dari waktuku tanpa faedah, hingga bila lisanku berhenti dari belajar menghafal dan berdiskusi, mata aku berhenti dari membaca buku, maka aku menggunakan pikiranku ketika istirahat. Aku tidaklah bangun kecuali sudah terlintas dalam benakku apa yang akan aku tulis. Aku merasakan semangat belajar ilmu ketika berusia delapan puluh tahun melebihi semangat yang aku rasakan ketika berusia dua puluh tahun.”

Imam Nawawi pada awal belajarnya, setiap hari membaca dua belas buku pelajaran kepada para gurunya lengkap dengan penjelasan dan koreksiaannya. An-Nawawi berkata, “Aku mengomentari semua yang berkaitan dengan penjelasan-penjelasan kitab yang sulit, atau kalimat-kalimat dan tata bahasa yang sulit. Allah memberikan barakah pada waktuku dan kesibukkanku, serta membantuku.”

Imam Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu malam atau siang, dan hanya menyibukkan dirinya dengan ilmu. Bahkan ketika beliau berjalan, beliau terus mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya sambil berjalan. Beliau makan hanya sekali dalam sehari semalam, yaitu setelah isya’ di waktu akhir dan beliau minum hanya sekali di waktu sahur.

Sebagian diantara mereka, karena giatnya memanfaatkan waktunya, bahkan tidak meninggalkan menuntut ilmu ketika di dalam kamar kecil (WC) sekalipun. Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Imam Majduddin bin Taimiyah, apabila beliau masuk WC untuk membuang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, ‘Bacalah kitab ini dan angkatlah suaramu!’ “ Ibnu Rajab berkata, “Hal itu menunjukkan kuatnya semangat dalam belajar ilmu dan meraihnya serta dalam menjaga waktunya.”
Sebagian ulama salaf, karena bagitu semangatnya dalam belajar, mereka tetap belajar ketika mereka makan. Ibrahim bin Isa Al-Muradi berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih rajin dalam menuntut ilmu melebihi Al-Hafidz Abdul Azhim Al-Mundziri. Saya bertetangga dengannya ketika di madrasah di Kairo selama dua belas tahun, dan rumah saya berada di atas rumahnya. Saya tidak pernah bangun di waktu malam, kecuali saya mendapatkan lampu dirumahnya menyala. Beliau menyibukkan diri dengan belajar dan menulis. Sampai ketika beliau makan dan minum, kitabnya selalu berada didepannya, beliau membaca dan menelaahnya.”
Begitulah keadaan orang-orang shalih, para ulama yang jujur. Para ulama salaf sangat menghargai waktu mereka dan tidak meremehkannya walau hanya sebentar. 
Sumber:
102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara, Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah: Elba.
http://belajarislam.com/panduan-ilmu/153-melihat-ketekunan-belajar-para-ulama-salaf

22 April 2009

Adab Dialog dan Debat


"Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa'[4]:59)

Stasiun TV swasta gemar menayangkan acara2 debat atau dialog dengan tema yang mengarah pada perdebatan. Bisa jadi, tayangan model inilah yang memang digemari oleh pemirsa karena serunya.
Terkadang si pemandu mengajukan statement atau pertanyaan2 yang memancing kontroversi antar pihak pembicara, sehingga suasana dialog yang tadinya tenang-tenang saja berubah menjadi memanas. Tak jarang mereka jadi saling berebut bicara, saling memotong, tanpa menghormati kesempatan yang diberikan pada salah satu pihak, bahkan si pemandu juga ikut2an rame terus mendesak dengan pertanyaan2 yang HARUS dijawab secara lugas – menolak jawaban yang berisi penjelasan.. Duh, berisik, masing-masing jadi ingin memenangkan pendapatnya. Mumet.
Jika yang terjadi adalah situasi demikian, maka akan sulit bagi pemirsa untuk menarik kesimpulan atau kemaslahatan dari pembicaraan yang disajikan. Bahkan bisa jadi yang tertangkap oleh masyarakat luas justru kebathilan dari pendapat salah satu pihak yang kemudian dianggap sebagai nilai kebenaran.
Memang tidak selamanya kebenaran itu bisa dimenangkan melalui perdebatan. Karena apabila si pengusung kebathilan memiliki kemampuan verbal yang lebih hebat, maka yang terjadi justru sebaliknya: kebathilan lah yang dimenangkan.

Abu Umamah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :
Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, dan sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang memperbagusi akhlaqnya.” (Hasan. HR Abu Dawud).

Majalah Al Furqon Edisi 11 th. Ke-7 telah menyajikan tulisan yang terkait dengan etika dalam debat atau dialog.
Menurut kacamata Islam, debat dan dialog terbagi menjadi dua :
1. Debat & dialog yang disyariatkan
Yaitu yang bertujuan mencari dan menjunjung kebenaran, sehingga dapat menjadi sarana penyampaian dakwah.

2. Debat yang tercela
Yakni yg bertujuan hanya ingin menang, membela diri atau kelompoknya, tak ada niat untuk mencari kebenaran.

Bagaimana sebenarnya adab dalam berdebat dan dialog yang sesuai dengan koridor syar’i ?
1. Luruskan niat ; mencari ridho Allah dan membela kebenaran
2. Jujur, jauhi kedustaan
3. Berbekal ilmu
4. Berdebat pada permasalahan yang bermanfaat
5. Mengembalikan perselisihan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
6. Menahan diri dari emosi
7. Tampakkan rasa cinta dan persaudaraan sebelum, ketika, dan setelah dialog
8. Lembut dan sabar dalam berdialog
9. Kembali kepada kebenaran
10. Jaga lisan, jauhi ucapan kotor
11. Puji lawan debat apabila sudah kembali pada kebenaran
12. Akhiri dialog apabila lawan bicara keras kepala.

Inilah sebagian adab yang harus diketahui dan dipelihara sebelum seseorang terpaksa menyampaikan kebenaran melalui debat.

Wallahu a’lam.
Semoga Allah memelihara diri dan keluarga kita dari kesalahan.

Ummu-Nasyitha
Barabai 21 April 2009/ 25 Rabi’uts Tsani 1430 H